Studi Tafsir Al-Qur’an di Indonesia dan Asia Tenggara : Peluang dan Tantangan

0
667

Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag. mengawali pertemuan mata kuliah “Studi Tafsir di Indonesia dan Asia Tenggara” secara daring pada Kamis (17/2). Sebagai wacana lintas disiplin yang mengolaborasikan kajian filologi, area studies, dan ilmu tafsir, sesi perkuliahan ini menawarkan sebuah sikap kritis terhadap produk-produk intelektual atas Al-Qur’an yang diproduksi oleh pengarang-pengarang Indonesia dan Asia Tenggara. Tren kajian semacam ini tampak “segar” dan kontras secara diskursif bilamana dibandingkan dengan konteks kajian ilmu Islam dan Al-Qur’an yang lekat dengan tradisi Arab abad VII.

Tantangan utama dari kajian tafsir dalam konteks kewilayahan terletak pada lompatan epistemik yang sangat jauh. Kajian yang hendak mengidentifikasi produk tafsir di Asia Tenggara dan Indonesia ini perlu mengamati lompatan politik, kultural, dan intelektual yang serius dari konteks masyarakat Arab yang lekat dengan tradisi Antik Akhir (Late Antiquity) menuju ke periode 1400 tahun berikutnya di dataran yang begitu asing dengan penduduk beretnis Austronesia, Thai, dan Negrito. Singkat kata, upaya mempelajari perkembangan tafsir di Indonesia dan Asia sangat bergantung pada teori-teori utama yang menjelaskan kemunculan Islam di wilayah tersebut.

Tren kajian tafsir di Asia Tenggara mulai populer di Eropa lewat dua artikel karangan Peter Riddell, “Earliest Quranic Exegetic Activity in the Malay Speaking States” di tahun 1989 dan “The Use of Arabic commentaries on the Qur’an in the Early Islamic Period in South‐East Asia”pada tahun berikutnya. Kedua artikel ini mengajak para sejarawan dan budayawan yang terikat dengan kultur Melayu (Malay worlds) untuk menguji teori kemunculan Islam dari Gujarat, India, di Semenanjung Aceh pada abad ke-XIII Masehi lewat pengkajian naskah manuskrip tafsir.

Riddell menyatakan sebuah teori―yang tak terbantahkan hingga 32 tahun berikutnya―bahwa kemunculan produk tafsir di Asia Tenggara diinisiasi oleh ‘Abd ar-Ra’uf bin ‘Alī al-Jāwī al-Fanṣūrī al-Sinkilī lewat karya bertajuk Tarjumān al-Mustafid yang ditulis pada pertengahan hingga akhir abad XVIII. ‘Abd ar-Ra’uf merupakan pemuda asal Singkel, terletak di Barat Sumatra, yang mempelajari ilmu Al-Qur’an dan hukum Islam selama 19 tahun di Singkel, berangkat ke Arab pada kisaran tahun 1640-50, dan menulis kitab tafsir pada kisaran tahun 1675 di Singkel sebelum menjemput ajal pasa usia 78 tahun.

Peter Riddell pulalah yang pertama kali mencatat bahwa karya tafsir pertama di Asia Tenggara tersebut banyak mengadopsi Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl karya al-Baiḍawī, Tafsīr Jalālayn, dan Lubāb al-Ta’wīl fī Ma’āni al-Tanzīl karangan Abū Ḥasan Ali bin Muhammad. Belakangan teori tersebut menerima respon yang beragam dari kalangan pengkaji kitab Tarjumān al-Mustafid, sebagian mengembangkan teori Riddell sedangkan sisanya memberikan catatan kritis terhadapnya.

Abdul Mustaqim terlingkup pada kelompok kedua dengan menyebut bahwa karya tafsir ‘Abd al-Ra’ūf tidak tepat disebut sebagai gubahan karya-karya tafsir berbahasa Arab yang disebutkan di muka, sebab sang empu turut menyajikan banyak informasi dan tafsiran tambahan antara lain tentang faidah surat (fawā’id al-suwar), kumpulan kisah, serta kumpulan data qiraat dari tiga periwayatan; qiraah Hafṣ riwayat ‘Āṣim yang populer di Mesir, qiraat Abū Amr riwayat ad-Dūri asal Sudan, dan qiraat Nāfi’ riwayat Qālun yang berkembang di Maroko (lihat Mokhtar & Ibrahim: 2012; Wan ‘Abdullah: 2016).

Informasi semacam ini, menurut Mustaqim, takkan ditemukan bilamana para peneliti tidak melakukan pengkajian naskah secara cermat, berbekal paradigma keilmuan lintas disiplin. Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga itupun mengajak para mahasiswa untuk melacak unsur-unsur infiltrasi dan asimilasi (ad-dakhīl wa al-‘aṣīl) pada karya-karya tafsir di Indonesia dan Asia Tenggara.

Sebagai catatan, upaya pengamatan kritis atas wawasan Al-Qur’an dan produk tafsir pada konteks Indonesia dan Asia Tenggara sejatinya telah berkembang di tengah sarjana Indonesia sejak pertengahan abad ke-XX. Tudjimah, guru besar Bahasa Arab dan Sejarah Islam Universitas Indonesia, telah melakukan produksi intelektual yang signifikan di ruang akademik sekular sekurang-kurangnya pada tahun 1965. Dalam rangka mengamati dimensi-dimensi fundamental dalam Al-Qur’an sekaligus menekan perkembangan kajian Al-Qur’an yang didominasi oleh kesarjanaan Eropa, Tudjimah menyebut bahwa Kalamullah tersebut lekat dengan nilai universal semisal kebebasan beragama, humanitarianisme, persaudaraan dan solidaritas, serta spiritualitas.

Kendati paradigma tafsir yang Tudjimah inisiasi masih terkungkung dalam ajang kontestasi yang―meminjam istilah Daniel Madigan―dikenal sebagai “analisis perebutan dan konfliktual” terhadap wacana keagaaman, diskursus akademik terhadap Al-Qur’an di Perguruan Tinggi Indonesia dan Asia Tenggara patut diapresiasi mengingat perkembangannya yang begitu pesat bilamana dibandingkan dengan model kajian tafsir yang berkembang belakangan.

Adapun model kajian akademik terhadap tafsir Al-Qur’an yang bernuansa kolaboratif dan dialogis di Perguruan Tinggi Indonesia dapat dilacak pada pemikiran Mukti Ali, guru besar ilmu perbandingan agama dan mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga. Lewat salah satu karya monomentalnya berjudul Ilmu Perbandingan Agama (1970), Mukti Ali menawarkan paradigma yang segar dalam pembacaan komparatif terhadap teks Al-Qur’an dengan kitab-kitab suci agama lain.

Dengan semangat kajian kolaboratif dan kritis tersebut, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Indonesia telah melebarkan sayap kajian mengenai tafsir Al-Qur’an sejak lima dekade belakangan. Abdul Mustaqim turut menawarkan sejumlah paradigma, pendekatan, dan metode penelitian terkini dalam pengkajian produk-produk tafsir di Indonesia dan Asia Tenggara. Beberapa teori yang dapat diadopsi, di antaranya teori Epistemologi, teori Basis Sosial Penafsir, teori Tafsir Maqashidi, teori Fungsi Interpretasi (khususnya Jorge J.E. Gracia), teori Analisis Diskursus Kritis, dan Pendekatan Sejarah.

 Pada konteks kajian tafsir Al-Qur’an karya ulama Indonesia asal Banten, magnum opus Syekh Muḥammad Nawawī al-Bantanī (1813-1897) berjudul Marah Labid dapat dicermati dengan teori epistemologi. Salah satu problem epistemologi dalam penafsiran Al-Qur’an adalah menyangkut tolak ukur kebenaran dari proses kreatif sang mufasir tersebut. Dalam rangka menentukan tolak ukur kebenaran dalam suatu penafsiran, terdapat tiga teori yang layak digunakan dalam rangka menguji validitas tafsir, antara lain teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatisme. Bila berpedoman pada teori koherensi, Mustaqim mencatat bahwa penafsiran Syekh Nawawī terhadap konsep nusyūz dalam QS. An-Nisā (4): 34, khususnya mengenai hukum memukul istri, sangatlah kontras bilamana dibandingkan dengan hegemoni penafsiran yang berkembang di tengah ulama tafsir abad pertengahan.

Bila Syekh ‘Abd al-Qadīr al-Jailanī memperbolehkan hukuman berupa pukulan yang menyakitkan (al-ḍarb al-mu’lim) terhadap istri yang lalai, Syekh Nawawi justru berpendapat bahwa hendaknya istri hanya dipukul dengan sarung tangan.Model tafsiran yang bernuansa ramah terhadap perempuan dan non-patriarkis semacam ini, sebut Mustaqim, di satu sisi, erat kaitannya dengan kultur masyarakat Nusantara yang bersikap hormat kepada perempuan, serta di sisi lain, berkaitan dengan hubungan rumah tangga Syekh Nawawī yang harmonis dan hanya beristrikan satu perempuan (monogami) semasa hidupnya.

Adapun problem mengenai Syekh Nawawī yang belajar ilmu agama di Mekah menulis kitab tafsir berbahasa Arab tidak membuat pra-pemahamannya menjadi mufasir yang berwawasan kearaban, sebagaimana diilustrasikan lewat penafsiran QS. An-Nisā’ (4): 34. Model kajian tafsir semacam inilah yang memantik perenungan dan penelitian ulang di kalangan sarjana tafsir guna memahami identitas tafsir di dataran Indonesia dan Asia Tenggara.

Egi Tanadi Taufik (Mahasiswa Pascasarjana UIN Suka, Peneliti Muda Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs), dan Associate Researcher ESENSIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here