Imam Nawawi al-Bantani (1813-1897 M.) dan Syarat Mencari Ilmu

0
178

LSQ ar-Rohmah – Imam Nawawi al-Bantani merupakan ulama Indonesia yang bereputasi mendunia. Karya beliau menjadi rujukan di pesantren dan di PT sampai sekarang. Bahkan dalam masanya menjadi guru besar di bidang hadis dengan murid  dari beragam negara. Beliau juga memiliki sanad keilmuan sampai hadis sampai Rasulullah saw. Sosok IN dalam keilmuan dalam bidang hadis menjadi bagian perkembangan kajian hadis di dalam perkembangan sejarah.

Banyak akademisi melakukan kajian atas IN dan karya-karyanya. Kajian berupa artikel dan karya ilmiah lainnya. Beragam karya yang mengacu pada IN dapat dilihat dalam beragam jurnal dan buku yang diperoleh di ojs jurnal dan beragam model indeksasi jurnal baik lewat DOAJ,  dan Google Schoolar .

IN dan Sketsa Hidupnya

IN berasal dari Serang Banten di mana sebagai tempat kelahirannya yakni tahun1815 M. Buah Cinta antara Syekh Umar bin Arabi dengan Zubaidah. Beliau  anak sulung dari tujuh bersaudara bernasab sampai Rasulullah saw. Beliau juga merupakan keturunan Sultan Maulana Hasanuddin raja pertama Banten yang ke-12.

Sejak IN kecil pendidikannya diasuh langsung oleh ayahnya. Pendidikan  tersebut kemudian dilanjutlan belajar dengan ulama lokal Banten KH. Sahal dan KH. Yusuf di Purwakarta. Baru umur 15 tahun berhaji dengan saudaranya dan belajar di Makkah selama tiga tahun. Sekembalinya ke tanah air, IN tidak dapat mengembangkan ilmunya dan akhirnya kembali ke Makkah. Beliau menjadi pengajar sejumlah ulama besar Indonesia antara lain Kiyai Hasyim Asy’ari, Kiyai Kholil Bangkalan dan sebagainya.

IN melahirkan ratusan karya yang menjadi rujukan sampai sekarang. Sebagaimana informasi ulama Mesir dalam kitabnya yang berjudul al-Durus al-Madhi al-Ta’lim wa Hadlirih Masjidil Haram karya Umar ibn Abd al-Jabbar mencapai ratusan judul kitab. Junlahnya 115 buah dalam bidang tauhid, tafsir, hadis, tasauf  dan ilmu fiqih. Beliau juga menulis Kitab Tafsir dengan judul Tafsir al-Munir. Karya tafsir tersebut menurut penulis buku yang menghimpun karya-karya IN tersebut lebih baik dari Tafsir Jalalin.

Salah satu kitab hadis yang menjadi bagian pembelajaran di pesantren adalah Kitab Nashaih al-Ibad al-Bayàn Alfadz Munabbihat ala Isti’dad li al-Yawm al-Ma’ad. Sesuai nama kitabnya, isi di dalamnya memuat nasihat penting bagi ummat Islam menuju hari akhirat. Ada 45 buah nasihat yang bersumber dari Hadis Nabi saw. dan perkataan sahabat  dan fatwa tabi’in. Salah satu bagian bab tersebut adalah menuntut ilmu dengan baik.

Beliau wafat di Makkah tahun 1897 M. dalam usian 87 tahun dan dimakamkan di Makkah. Peringatan wafatnya selalu dilakukan di Serang. Tepatnya, di Pesantren an-Nawawi Serang. Pesantren ini diasuh oleh KH. Ma’ruf  Amin. IN terkenal sebagai sayyid ulama al-hijaz, al-imam al-muhaqqiq wa al-fahamah al-mudaqqiq, a’lam ulama al-qarn al-rab’ al-asr li al-hijrah, dan ulama al-haramayn. Semua julukan tersebut menandakan alimnga IN dalam ilmu agama Islam di Makkah.

Syarat Ilmu 9 Macam

Syarat menuntut Ilmu menurut Syaikh Imam Nawawi al-Bantani ada sembilan hal. Pertama harus dilakukan dengan akal yang sehat. Akal inilah yang menjadi sandaran utama dalam menerima ilmu dengan baik.  Kedua, harus memiliki kecerdasan yang baik. Dari kecerdasan inilah seorang menuntut ilmu dapat mengungkap yang sulit menjadi mudah. Dalam bahasa Tafsir tidak saja mampu mengungkap yang jelas melainkan juga yang masih samar atau mutasyabih.

Kedua hal di atas harus diikuti kekuatan hafalan yang bagus. Model menghafal ini menurut Imam Syafi’i harus mampu meninggalkan hal-hal yang tidak baik agar hafalannya kuat dan terjaga. Atau dengan cara mencatat sebagaimana ulama hadis yang kurang dalam daya ingatnya menggunakan tulisan.

Syarat keempat senang dengan ilmu. Syarat ini akan mengantarkan seseorang haus akan ilmu dan selalu mencari hal-hal baru dengan membaca  sendiri dan mengembangkannya melalui beragam karya lainnya. Tanpa kecintaan, hubungan antara guru dan murid kurang terjalin erat.

Syarat kelima adalah adanya beaya yang cukup. Saat ini hal ini penting dalam terselenggaranya pendidikan. Biaya ini adalah biaya untuk kegiatan pendidikan dan biaya untuk hidup keseharian dengan menu yang bergizi dan cukup. Selain itu, juga terkait fasilitas penunjang pembelian buku dan yang terkait. Era sekarang membutuhkan smartphones dan kuota untuk akses beragam kitab dan lainnya.

Keenam, seorang yang belajar harus memiliki waktu yang luang. Belajar tidak hanya di kelas ketika tatap muka. Banyak waktu luang  harus digunakan untuk menelaah dan membaca sekaligus menulis.

Keenam hal di atas harus dipenuhi dengan baik dan ditambah dengan syarat tidak ada hal yang memutus dalam mencari ilmu.  Hal ini dapat berbentuk sakit fisik maupun lainnya. Atau sakit lainnya secara psikis yang dapat mengganggu pencarian ilmu.

Syarat ke delapan adalah umur dan waktu. Dengan kesehatan di atas, seorang yanga belajar dapat sehat dan tidak banyak penyakit. Atas dasar inilah maka pejuang ilmu dapat berumur pajang dan dapat mengamalkan ilmunya dengan mengajaekan dan menghasilkan karya tulis yang dapat dinikmati sepanjang  geneasi yang tidak hanya sepanjang penulisnya.

Syarat yang terakhir adalah guru yang alim  dan yang senang memberi ilmu, toleran dan pelan dalam mengajarnya. Syarat terakhir ini merupalan amal yang baik dan dapat berkembang yang didapatkan oleh pengajar. Ilmu yang bermanfaat bagi pengajarnya dan hanya orang yang senang ilmu dan ikhlas yang mampu melakukannya.

Oleh : Muhammad Alfatih Suryadilaga

Wakil Dekan Bidang Akademi Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2020-2024, Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASIlHA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here