Bijak dalam Mengatur Waktu

0
301

Waktu sesungguhnya sangat berharga. Orang Jepang berkata, time is money, waktu adalah uang. Sementara Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, al-waqtu kasaif, waktu itu seperti pedang. Jika kita tidak pandai menggunakannya, maka ia bisa menggorok leher kita sendiri. Kegagalan dalam kehidupan seseorang biasanya bermula dalam kegagalan mengatur waktu. Itu sebabnya, al-Qur’an mengingatkan kepada kita agar pandai dan bijak menggunakan dan mengatur waktu.

Ada sekian banyak ayat al-Qur’an yang menggunakan sumpah dengan menyebut nama nama waktu. Misalnya, wa shubhi (demi waktu shubuh), wad dluhâ (demi waktu dhuha), wal `ashri (demi waktu ashar) wal laili (demi waktu malam). Redaksi sumpah tersebut mengafirmasi tentang pentingnya waktu dalam kehidupan.

Sayyidina Ali bin Ai Thalib pernah mengatakan, al-dun-ya tsalâtu ayyâm. Artinya, hidup di dunia itu pada hakikatnya hanya tiga hari, yaitu:

Pertama, yaumun qad madlâ walaisa bi `âdin (hari kemarin, hari yang sudah berlalu dan tidak mungkin kembali). Untuk itu, masa lalu yang sudah kita lalui, mestinya bisa menjadi pembelajaran untuk introspeksi diri. Yang lalu memang biar berlalu. Demikian kata syair sebuah lagu. Namun, kita harus segera sadar diri untuk menjadikan masa lalu sebagai mauizhah nasihat. Jangan terlalu baper dengan masa lalu yang kelam, apalagi sampai stress dan depresi. Segeralah, bangkit untuk segera berbenah diri untuk segera move on dan bertindak secara lebih produktif.

Kedua, yaumun wa anta fîhâ, wa lâ tadrî anta bâqin am râhil (hari ini, yakni hari sekarang di mana Anda tidak tahu, apakah Anda masih akan tetap hidup hari ini atau akan segera “berangkat’, alias meninggal dunia). Untuk itu, hari ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Orang yang bijak dan akan sukses adalah orang yang bisa mengambil pelajaran di masa-masa lalunya, untuk menentukan sikapnya di masa sekarang dalam rangka menatap masa depan yang lebih cemerlang. Sebaliknya, orang yang gagal, adalah orang yang tidak segera bangkit dari keterpurukan masa lalu dan tidak memiliki optimisme di masa yang akan datang.

Ketiga, yaumul ghad wa `alaika minal amal (hari esok, hari yang akan datang dan kalian harus punya cita-cita dan harapan mulia). Untuk itu, setiap kita harus punya cita-cita yang luhur. Cita-cita dan harapan akan membuat seseorang hidupnya lebih optimis. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki optimisme, akan cenderung nglokro dalam hidupnya, sehingga tidak mampu memaksimalkan potensipotensi dalam dirinya.

Bersyukurlah Anda, jika dalam hari hari yang Anda jalani dengan sikap optimis. Itulah karakter sejati seorang mukmin. Itu sebabnya, al-Qur’an melarang sikap putus asa, sebab putus asa adalah sikap orang kafir. (Q.S. Yusuf [12]: 87). Akhirnya, penulis ingin menegaskan argument penulis bahwa semakin bijak dan pandai seseorang mengatur waktu, maka semakin dekat ia dengan kesuksesan dalam hidupnya.. SEMOGA

Prof.Dr. KH. Abdul Mustaqim, M.Ag.
Pengasuh PP. LSQ ar-Rohmah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here