Argumentasi Kesetaraan Gender dalam Kisah Adam

0
208

LSQ ar-Rohmah – Umumnya tafsir-tafsir lama, seperti al-Thabari, al-Qurthubi,  Ibn Kathir Jalalain, -untuk hanya menyebut beberapa kitab tafsir saja–  cenderung mengambarkan kisah Adam sebagai argumentasi  superioritas laki-laki  katimbang perempuan. Sisi lain, the legend of fall (legenda kejatuhan Adam), sering dijadikan justifikasi untuk menyudutkan kaum perempuan, karena konon yang menggoda Adam untuk makan buah ‘khuldi’ di surga adalah Hawa, yang notabene perempuan.

Perempuan lalu diposisikan sebagai mamba’ al-fitnah (sumber fitnah)dalam kehidupan.Sebuah sterio type  yang sangat tidak Qur’ani. Namun tidak demikian halnya dengan tulisan ini yang justru ingin menegaskan argumentasi kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam kisah Adam. Tulisan ini akan memberikan counter atas klaim di atas di mana penulis akan mengelaborasi kisah Adam tersebut dalam elemen-elemen kesetaraan sebagai berikut:

Kesetaraan dalam Asal-usul Penciptaan 

Literatur  kitab-kitab tafsir lama  umumnya memahami bahwa manusia pertama adalah Adam  yang berjenis kelamin laki-laki. Adam adalah manusia pertama, yang  ini berarti bahwa perempuan (baca: Hawa)  sebagai pasangan Adam adalah perempuan yang secara ontologis hanya sebagai second class. Argumentasi yang sering digunakan  adalah bahwa  penciptaan manusia itu dari nafs wahidah (Q.S al-Nisâ’ [3]:4)  yang frasa  tersebut ditafsirkan sebagai Adam. Sumber penafsiran ini adalah hadis Nabi riwayat al-Bukhari dan Muslim yang  menyatakan bahwa nafs wahidah adalah Adam.

Penulis tidak  menolak kesahihan  hadis tersebut. Namun secara sociology of konwledge jelas bahwa tafsir seperti ini  mencerminkan  ‘bias patriarkhi’, sebab konteks Arab waktu itu memang lebih mencerminkan dominasi kaum patriakhi, dan umumnya para penafsir adalah kaum laki-laki,  sehingga  sadar atau tanpa sadar,  mereka  memilih penafsiran yang cenderung mengunggulkan kepentingan kaum laki-laki.

Pertanyaannya, mengapa pilihan maknanya jatuh pada pengertian Adam yang berjenis kelamin laki-laki?  Padahal dalam teks al-Qur’an redaksi teksnya justru netral gender, sebab Allah Swt menyebutkan: ”ya ayyuha al-nâs ittaqû rabbakum al-ladzi khalaqakum min nafs wâhidah. Artinya, wahai manusia  bertkawalah kalian kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari nafs wahidah. (Q.S. al-Nisâ [4]:1)  Penyebutan kata nâs (manusia) jelas mencerminkan kesetaraan, sebab  manusia itu mencakup jenis kaum lelaki dan perempuan. Semuanya  diciptakan dari nafs wâhidah  (sumber yang sama atau jiwa yang satu).

Bahkan secara linguistik Arab, kata nafs  sebenarnya  justru  menunjukkan bentuk mu’annas (perempuan), yang dapat terlihat dari sifatnya,  yaitu kata hidah (yang satu), di situ terapat tâ’ marbuthah yang menunjukkan jenis perempuan.

Dengan demikian,  frasa nafs wâhidah (jiwa yang satu atau sumber yang satu)  justru menunjukkan bahwa lelaki dan perempuan secara ontologis adalah  sama dan secara eksistensial juga setara. Di situ, sebenarnya ada dimensi yang tak terkatakan (al-maskût `anhu) di balik frasa tersebut, yaitu  bahwa memperlakukan kaum perempuan secara tidak setara, dapat dinilai bertentangan  dengan cetak biru (blue print) Tuhan telah menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) secara setara.

Frasa nafs wahidah  juga dapat berarti bahwa keduanya, (laki-laki dan perempuan)  baru akan sempurna eksistensinya manakala keduanya mau menyatu, saling tolong-menolong  dalam mengemban misi kekhalifahan di muka bumi ini. Itu sebabnya dalam filsafat Jawa suami atau istri disebut dengan istilah garwo yang berarti sigaring nyowo (separoh jiwa), sehingga mengabaikan salah satunya akan menyebabkan kehilangan separoh eksistensinya. Oleh sebab itu,  dalam konteks kehidupan ini laki-laki dan perempuan bukan hanya co-existence, tetapi juga pro-existence.

Kesetaraan dalam Aspek Spiritual.

Kesetaraan spiritual  laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan akan mendorong semangat pengabdian kepadaNya secara optimal.  Salah satu aspek kesetaraan spiritual dalam kisah Adam adalah bahwa keduanya (Adam dan Hawa) sama  mendapat mandat dari Tuhan untuk tinggal di surga dan keduanya sama-sama tidak boleh melanggar larangan Tuhan, yaitu tidak mendekati pohon terlarang. (Q.S. al-Baqarah [2]:30).  Perintah dan larangan  tersebut,  memberi isyarat bahwa kaum laki-laki dan perempuan  secara eksistensial adalah sama dan setara dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Dengan demikian, aspek  yang tak  terucapkan di balik ayat tersebut adalah seolah Tuhan ingin berkata, “Wahai kalian, Adam dan Hawa (laki-laki dan perempuan),  kalian itu setara di hadapan Aku dalam menjalankan perintah dan laranganKu. Maka, kalian jangan merasa bahwa seolah jenis kelamin secara biologis membuat kalian lebih mulia. Ketahuilah, bahwa yang membuat kalian dipandang mulia di hadapanKu adalah  aspek ketakwaan kalian, yakni  ketaatan kalian dalam menjalankan perintahKu dan menjauhi laranganKu (Q.S al-Hujurat [49]:  13).Tafsir seperti ini perlu dikemukakan, agar tidak ada lagi pandangan yang merendahkan kaum perempuan.

Kesetaraan dalam Tanggungjawab

Kesetaraan gender  juga tampak dalam kisah Adam dan Hawa dalam bertanggung jawab atas perbuatan keduanya, karena keduanya sama-sama melakukan pelanggaran. Keduanya lalu disuruh keluar dari surga dengan segala konskuensinya. (QS al-Baqarah [2]:38). Hal ini menunjukkan bahwa keduanya (Adam dan Hawa) setara secara eksistensial  yang harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka masing-masing. Jika keduanya tidak setara, tentunya keduanya tidak akan sama-sama disuruh bertanggung jawab dengan menanggung  sanksi hukuman yang sama, yaitu sama-sama keluar dan turun dari surga.   

Dalam narasi  kisah berikutnya, bahwa keduanya sama-sama merasa  menyesal  bertaubat, sebagaimana terlihat dalam doa yang dipanjatkan Adam, dengan  mengatakan  “Rabbanâ zhalamnâ  anfusanâ wa illam taghfirlanâ wa tarhamnâ lanakûnannâ minal khâsirîn”. (Q.S.al-A`râf [7]:23) (Wahai Tuhan kami,  kami  telah berlaku aniaya, seandainya Engkau tidak mengampuni kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi).

Dengan  demikian, dapat ditegaskan bahwa eksistensi laki-kali dan perempuan dalam hal  tanggung jawab adalah setara. Masing-masing akan bertanggungjwab di hadapan Tuhan. Adalah tidak qur’ani,  ungkapan yang popular dalam masyarakat   wong wadon iku  neroko katut, suwargo nunut  (perempuan itu  masuk neraka karena ikut suami dan masuk  surga juga hanya numpang suami). Kita bisa berkata, bahwa laki-laki dan perempuan dapat masuk surga atas rahmat Tuhan, karena amal kesalehan mereka. Keduanya dapat masuk neraka, juga karena tanggung jawab atas perbuatan maksiat mereka masing-masing. Wa Allâhu a’lam bi al- shawâb.

Oleh : Abdul Mustaqim

Guru Besar Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Lingkar Studi al-Quran (LSQ) ar-Rohmah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here